Latest Products
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan

Kapolres Sergei Pimpin Rapat Pembentukan Team Sar Gabungan TNI - Polri

Order Detail

Sergei.Metro Sumut
Kapolres Serdang Bedagai Ajun Komisaris Besar Polisi Robin Simatupang SH MHum memimpin Rapat Koordinasi Pembentukan Team SAR Gabungan TNI/Polri dan Pemkab Sergai yang digelar di Aula Patriatama Polres Serdang Bedagai. Rabu (08/01/2020).

Selain Kapolres, Rapat ini juga dihadiri Kabag Ops Kompol Sofyan SH, Kasdim 0204 / DS Mayor Toto Triyanto, Para Kasatfung Polres Sergai, Para Kapolsek Sejajaran Polres Sergai, Para Camat Sekab – Sergai, Dinkes Kab. Sergai, Sat Pol PP Kab. Sergai, BPBD Kab. Sergai dan Dinas PUPR Kab. Sergai.

Kapolres Sergai menyampaikan kepada Team SAR agar mengantisipasi cuaca di pesisir laut seperti angin kencang yang bakal mengakibatkan kerusakan rumah pertanian. “Sesegera mungkin menanggulangi bencana alam di sekitar kita. Selain itu Sat Pol PP agar siap mengikuti pembentukan Team SAR. Begitu juga dengan Team BPBD agar senantiasa mendukung kegiatan ini, dan persiapkan Apel Siaga Bencana Alam,” ujar Kapolres.

Kepada para Camat, Kapolres berharap agar melakukan gotong royong antisipasi banjir susulan. “Antisipasi banjir kiriman dari gunung akibat sungai mengalami pendakalan di hilir akibat banjir. Semoga rapat membawa hasil, para peserta rapat koordinasi agar melaporkan kepada pimpinannya,” ujarnya.

Sedangkan Kasdim 0204 DS Mayor Toto Triyanto menyampaikan, agar pembentukan Team SAR segera dibentuk, dikarenakan kelengkapan didukung dari Pemda. “Kita berharap tidak ada bencana alam di daerah kita. TNI siap membantu apabila ada bencana, dan para peserta Team Sar harus dilatihkan secepatnya,” ujarnya

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja ,S.I.K menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dilakukan Polres Sergai untuk mengantisipasi adanya bencana alam di kabupaten Sergai dan juga untuk mepersiapkan personil untuk menghadapi apabila terjadi bencana alam. (Leodepari)

Begitu Nampak Kedekatan Babinsa Babulu Dengan Para Petani Menanam Padi

Order Detail

Penajam.Metro Sumut
Sebagai upaya mendukung program pemerintah, khususnya swasembada pangan, jajaran Kodim 0913/Penajam Paser Utara (PPU) turut serta melaksanakan pendampingan menanam padi. Rabu (27/11/2019).

Kegiatan tersebut dilakukan oleh Serka Tafsir anggota Koramil 0913-03 Babulu dengan membantu menanam padi di lahan kering milik Roni (50) di Rt 02 Dusun 01 Desa Gunung Makmur Kecamatan Babulu Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Selasa (26/11/2019).

Danramil  Babulu  Kapten Inf Martono  mengatakan, ” Kegiatan yang dilakukan anggotanya merupakan suatu bentuk kepedulian TNI untuk membantu pemerintah dalam mensukseskan swasembada pangan, khususnya di wilayah Babulu  yaitu membantu dan mengawasi petani secara langsung di lapangan,”ujarnya.

“Babinsa juga harus mengawasi lahan atau sawah, jangan sampai ada yang tidak ditanami, sehingga nantinya dengan cara ini swasembada pangan yang ada di wilayah dapat tercapai,” tegas Danramil  Babulu.

Sementara itu Babinsa Desa Gunung Makmur menambahkan,“ Kami selalu memberikan penekanan dan motivasi kepada para Petani untuk mendukung program swasembada pangan di wilayah, sehingga apa yang diharapkan oleh si petani atau pemerintah bisa tercapai dengan baik dan berjalan dengan lancar dengan harapan hasil panen yang diperoleh dapat meningkat,” Tutur Serka Tafsir. (Sumber Penrem 091/ASN).

Bupati Labuhanbatu Buka Program Penanggulangan HIV/AIDS

Order Detail
Labuhanbatu.Metro Sumut
Bupati Labuhanbatu H.Andi Suhaimi Dalimunthe ST.MT buka program Penanggulangan HIV/AIDS Diwakili Asisten Admistrasi Pemerintahan Dan Sosial Pemkab Labuhanbatu.Nasrullah SH MAP bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan HIV/AIDS dan Rumah Sakit Umum Daerah Rantauprapat menggelar pertemuan stakeholder komisi penanggulangan HIV/AIDS Kabupaten Labuhanbatu, Selasa (12/11/2019) di Ruang Data dan Karya Kantor Bupati Labuhanbatu.

Pertemuan stakeholder Komisi Penanggulangan HIV/AIDS yang Dihadirkan dua Orang nara sumber dari Rumah Sakit Umum Daerah Rantauprapat Dr. Hj. Susi Rossaliana Ginting, Sp.KK yang berbicara tentang Seputar HIV/AIDS dan Dr. Hariati dengan paparannya tentang Epidimi dan Program Penanggulangan HIV/AIDS

Asisten Administrasi Pemerintahan dan Sosial SeKdakab Labuhanbatu Nasrullah, SH, MAP dalam penyampaianya mengatakan bahwa dalam penanganan penyakit HIV/AIDS di Labuhanbatu ada tim penanggulangannya, Dan seharusnya yang terjadi dilapangan bisa berkurang penularannya " Katanya.


Lanjut Nasrullah, Sementara itu saat pemaparan oleh Dr. Susi Rossaliana Ginting, Sp.KK beliau menjelaskan, Cara penularan HIV/AIDS yaitu melalui cairan darah yang sudah terinfeksi, Pemakaian jarum suntik yang sudah terkontaminasi HIV, Hubungan seks dengan penderita HIV, dan lewat air susu ibu penderita HIV " Ucapnya.

Nasrullah menjelaskan, Bahwa HIV tidak ditularkan melalui berpelukan atau berjabat tangan (keringat), Pemakaian WC, Berenang dikolam renang, Gigitan nyamuk atau serangga, membuang ingus, Batuk atau meludah dan pemakaian piring, Alat makan/minum atau makan bersama-sama " Jelasnya.

Kegiatan Acara tersebut turut kuga dihadiri Kasat Binmas Polres Labuhanbatu AKP. Edi Hutauruk, Para utusan Organisasi Perangkat Daerah, Kabag Kesra dan Kabag Sosial Sekdakab Labuhanbatu serta OKP dan Para Tamu undangan lainnya. (Ahmad Darwis Nst Kabiro Labuhanbatu)

Bulan Suci Ramadhan 1438 H, PAC Partai Gerindra Marelan Bagikan 150 Sembako Gratis Ke Kaum Duafa

Order Detail
Medan Marelan.Metro Sumut
Bulan suci Ramadhan 1438 H, Ketua PAC Partai Gerindra Marelan Haris Kelana Damanik membagi-bagikan 150 paket sembako dan beberapa paket secara gratis kepada kaum dhuafa di ruko Andre Gas di jalan A.Sani Muthalib KelurahanTerjun Kecamatan Medan Marelan. Jumat (02/06/2017).

Pemberian bantuan paket sembako yakni beras dan minyak goreng tersebut diberikan secara simbolis oleh ketua DPD Partai Gerindra Sumut H.Gus Irawan Pasaribu dan Ketua PAC.Gerindra Marelan Haris Kelana Damanik, ST, ketua DPC.Partai Gerindra Kota Medan Boby Oktavianus Zulkarnaen, Serta Bendahara PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Rahmawati Harahap

Ketua PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Haris Kelana Damanik ST didampingi Bendahara PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Rahmawati Harahap, OKK  PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Cipto, Sekjen  PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan  Parto dan Dewan Penasehat PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan sekaligus Dewan Penasehat Media Metro Sumut Ramli Harahap mengatakan kegiatan membagikan paket sembako kepada kaum dhuafa memang rutin dilakukan setiap bulan suci Ramadhan “ Katanya.

Lanjut Haris,Sebagai bentuk tanggung jawab sosial serta ungkapan syukur  PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan atas anugerah yang diberikan Allah Swt, PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan turut menyelenggarakan kegiatan-kegiatan bakti sosial berupa pembagian 150 paket sembako untuk kaum dhuafa Kecamatan Medan Marelan yang diharapkan dapat memberikan manfaat positif pada masyarakat “ Ucapnya.

Terpisah, Bendahara PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Rahmawati Harahap mengatakan berbagi kebahagiaan untuk memuliakan kaum duafa di bulan suci nan berkah dengan memberikan paket sembako,” Adanya berbagi sembako untuk dhuafa kami turut berbagi kebahagiaan untuk dhuafa. Sebagai bentuk rasa syukur kami kepada Allah atas rezeki yang diberikan kepada kami “ Katanya.

Sementara itu, Salah satu penerima sembako Bu Ratna (55) warga Kelurahan Terjun Marelan bersyukur dengan adanya pembagian sembako dari Ketua PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Haris Kelana Damanik ST,” Saya sangat bersyukur dan berterima kasih atas apa yang diberikan kepada kami. Mudah-mudahan, allah SWT membalasnya dengan kebaikan yang berlipat gandah, amin “ Ucapnya.(Hamnas).



Ratusan Kaum Dhuafa Terima Paket Sembako Ramadhan Dari PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan

Order Detail
Medan Marelan.Metro Sumut
Seratus lima puluh kaum dhuafa di Kecamatan Medan Marelan Kota Medan, menerima paket sembako Ramadan yang dibagikan secara simbolis oleh Ketua DPD Partai Gerindra Sumut H.Gus Irawan Pasaribu dan Ketua PAC.Gerindra Marelan Haris Kelana Damanik, ST, ketua DPC.Partai Gerindra Kota Medan Boby Oktavianus Zulkarnaen, Serta Bendahara PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Rahmawati Harahap. Jumat (02/06/2017).
Pembagian paket sembako gratis kepada kaum dhuafa yang ada di Kecamatan Medan Marelan tersebut turut dihadiri langsung oleh Ketua DPD Partai Gerindra Sumut H.Gus Irawan Pasaribu dan   ketua DPC.Partai Gerindra Kota Medan Boby Oktavianus Zulkarnaen, Tokoh agama  dan para tokoh masyarakat yang ada di daerah tersebut. Kamis (01/06/20170.

Bupati Mamuju Suhardi Duka, Anggota DPR Ibnu Munzir, Ketua DPRD Mamuju H Sugianto, para pejabat Pemprov Sulbar, pejabat Pemkab Mamuju dan para tokoh masyarakat yang ada di daerah tersebut, Minggu.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Haris Kelana Damanik ST didampingi Bendahara PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Rahmawati Harahap, OKK  PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Cipto, Sekjen  PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan  Parto dan Dewan Penasehat PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan sekaligus Dewan Penasehat Media Metro Sumut Ramli Harahap mengatakan pembagian paket sembako ini sebagai bentuk kepedulian Partai Gerindra terhadap masyarakat muslim yang saat ini tengah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan 1438 Hijriah,” Paket sembako yang diberikan kepada masyarakat umat muslim itu khususnya bagi kalangan masyarakat kurang mampu tak lain untuk saling berbagi di bulan yang penuh berkah ini. Momentum datangnya Ramadhan harus kita jadikan sebagai ajang untuk meningkatkan hubungan silaturahim diantara sesama khususnya bagi kaum muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa “ Kata Haris.

Sementara Dewan Penasehat PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan R amli Harahap menyampaikan, Penghargaan dan terima kasih kepada masyarakat umat muslim yang ada di Kecamatan Medan Marelan dan masyarakat Medan Utara yang rela hadir bersama-sama dalam acara silaturahim yang dilaksanakan tepat di bulan Ramadhan,” Kami ajak masyarakat untuk mengisi bulan Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya. Jangan lewatkan bulan ini berlalu begitu saja dan hendaknya dimanfaatkan untuk saling berbagi dan meningkatkan hubungan vertikal kepada Allah SWT dan meningkatkan hubungan sesama manusia serta menjalankan segala apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya “ Ucapnya.

Sementara itu, Nursiah, salah seorang kaum dhuafa yang menerima bantuan paket sembako tersebut mengaku gembira karena PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan memberikan bantuan pada pelaksanaan di bulan Ramadhan,” Kami tentu bersyukur karena paket sembako yang dibagikan saat masyarakat membutuhkannya. Ini akan meringankan sedikit beban ekonomi di saat harga kebutuhan melambung tinggi “ Ungkapnya.(Hamnas).


Muliakan Kaum Dhuafa, Hari Ini PAC Partai Gerindra Marelan Bagikan 150 Sembako

Order Detail
Medan Marelan.Metro Sumut
PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan yang diketuai Haris Kelana Damanik ST kembali berbagi kebahagiaan memuliakan kaum dhuafa di bulan suci nan berkah dengan memberikan 150 paket sembako secara serentak se-Kecamatan Medan Marelan, Pemberian bantuan paket sembako tersebut dilaksanakan setelah diresmikannya pembukaan.pasar murah yang berada di ruko Andre Gas di jalan A.Sani Muthalib Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan. Kamis (01/06/2017).

Pemberian bantuan paket sembako yakni beras dan minyak goreng tersebut diberikan secara simbolis oleh ketua DPD Partai Gerindra Sumut H.Gus Irawan Pasaribu dan Ketua PAC.Gerindra Marelan Haris Kelana Damanik ST, ketua DPC.Partai Gerindra Kota Medan Boby Oktavianus Zulkarnaen, Serta Bendahara PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Rahmawati Harahap

Ketua DPD Partai Gerindra Sumut H.Gus Irawan Pasaribu mengapresiasi apa yang telah dilaksanakan Ketua PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Haris Kelana Damanik ST guna membantu meringankan beban ekonomi masyarakat,” Di bulan baik ini kita memang dianjurkan untuk rajin bersedekah demi membantu masyarakat, ayo kita galakkan bersedekah “ Katanya.

Sementara  Ketua PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Haris Kelana Damanik ST didampingi Bendahara PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Rahmawati Harahap, OKK  PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Cipto, Sekjen  PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan  Parto dan Dewan Penasehat PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan sekaligus Dewan Penasehat Media Metro Sumut Ramli Harahap mengatakan kegiatan bhakti sosial  pembukaan pasar murah serta pemberian bantuan paket sembako ini sebagai bentuk kepedulian PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan kepada warga kaum dhuafa di bulan suci Ramadhan, “ Sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT, mari kita sisihkan sebagian rezeki untuk saling berbagi kepada kaum dhuafa, berinfaq, bersedekah " Kata Haris.

Haris juga mengajak umat Islam untuk untuk menjauhkan dan menghindari segala bentuk keburukan, memelihara niat baik, menjalin persaudaraan dengan penuh rasa kekeluargaan, yang dilandasi dengan semangat persatuan dan kesatuan, untuk mewujudkan kehidupan umat beragama yang berkualitas, harmonis, beriman, bertaqwa, dan beramal shaleh “ Ucap Haris.

Bu Ratna (58) warga Kelurahan Terjun Marelan mengucapkan banyak berterima kasih kepada Ketua PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Haris Kelana Damanik ST atas kepedulian bantuan sehingga bantuan sembako ini dapat membantu kebutuhan pokok kami sehari-harinya,” Kami doakan semoga Partai gerindra tetap jaya dan.kami mendoakan semoga Ketua PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Haris Kelana Damanik ST sukses sehat selalu serta dilapangkan rezekinya dan Pak Gus Irawan menjadi gubenur Sumut kita “ Katanya.(Hamnas).



Di Bulan Ramadhan, Ketua PAC Partai Gerindra Marelan Bantu 100 Sak Semen Untuk Mesjid Al ikhlas Pasar 1 Rel Marelan

Order Detail
Medan Marelan.Metro Sumut
Ketua PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Haris Kelana Damanik ST memberi bantuan 100 sak semen untuk pembangunan Mesjid AL Ikhlas jalan Marelan IX Lingkungan 3 Kelurahan Tanah 600 Kecamatan Medan Marelan. Senin (29/05/2017).

Bantuan ini diserahkan langsung oleh Ketua PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Haris Kelana Damanik ST didampingi Dewan Penasehat PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Ramli Harahap, Sekjen PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Parto, OKK PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Cipto, Bendahara PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Rahmawati Harahap dan diterima ketua panitia pelaksana Pembangunan Mesjid Rabidin Julianto didampingi pengurus Badan Kenajiran Mesjid (BKM) AL-Ikhlas M.Zen dan A.Rifai.

Ketua panitia pembangunan mesjid Rabidin Julianto yang didampingi penggurus BKM.AL Ikhlas M.Zen, A.Rifai mengaku syukur Alhamdulillah atas adanya bantuan yang diberikan Ketua PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Haris Kelana Damanik ST semoga Allah SWT membalas segala jasa baik yang telah diberikan “ Katanya.

Lanjut Julianto, Saat ini pembangunan Mesjid Al Ikhlas yang baru ini diperkirakan memakan dana sebesar Rp 2 miliar, dari itulah pihak panitia masih menerima segala bentuk bantuan dari masyarakat dan para dermawan sehingga pelaksanaan pembangunan mesjid segera rampung terlaksana hingga nantinya meajid baru ini mampu menampung 500 jemaah “ Ucapnya.

Julianto menjelaskan, Sebelumnya mesjid  yang lama hanya mampu menampung sebanyak 250 jemaah,” Proposal pembangunan meajid ini telah kita layangkan ke kantor Gubsu namun hingga kini belum ada realisasinya, kita berharap agar proposal pembangunan mesjid dapat terealisasikan “ Jelasnya.

Sementara Ketua PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Haris Kelana Damanik ST  didampingi Dewan Penasehat PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Ramli Harahap, Sekjen PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Parto, OKK PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Cipto, Bendahara PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan Rahmawati Harahap mengatakan bahwa bantuan tersebut merupakan kepeduliaan sosial PAC Partai Gerindra Kecamatan medan Marelan atas pembangunan Mesjid AL Ikhlas jalan Marelan IX Lingkungan 3 Kelurahan Tanah 600 Kecamatan Medan Marelan,“ Bantuan yang diberikan hari ini merupakan bentuk kepedulian PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Marelan atas pembangunan AL Ikhlas jalan Marelan IX Lingkungan 3 Kelurahan Tanah 600 Kecamatan Medan Marelan dan mudah-mudahan dapat berguna untuk pembangunan mesjid “ Kata Haris.

Lanjut Haris, Semoga apa yang kami berikan dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Terutama bagi kelancaran dan kenyamanan masyarakat untuk berwudu dan beribadah di Mesjid Al Ikhlas” Ucapnya.

Haris menjelaskan, Bantuan tersebut merupakan bentuk komitmen dan kepedulian PAC Partai Gerindra Marelan terhadap pembangunan Mesjid Al Ikhlas,” Tujuannya agar menjadi contoh bagi yang lainnya tentang pentingnya menjaga eksistensi dalam memberikan perhatian terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar “ Jelasnya.(Hamnas).


Cerita Orang Pertama Yang Menginjakkan Kaki Di Pulau Samosir Sumatera Utara

Order Detail
Samosir.Metro Sumut
Kekayaan obyek wisata di Sumatera Utara tidak terhenti pada pemandian air terjun, danau, gunung atau pantai. Tapi juga obyek wisata budaya dari penduduk yang terbilang unik dari kebiasaan penduduk mayoritas atau modern mengikuti zaman. Sabtu (18/03/2017).

Informasi yang dihimpun Media ini, Seperti halnya yang menjadi daya tarik Sumatera Utara. Ada beberapa desa yang masih 'perawan' dengan mempertahankan tradisi sehingga tempat ini menjadi obyek wisata. Inilah desa di Sumatera Utara yang layak dikunjungi, jika anda tertarik wisata budaya.

Desa Ambarita yang berada di Pulau Samosir menjadi satu tempat wisata sejarah yang wajib dikunjungi karena kaya akan peninggalan sejarah di masa kepemimpinan Raja Sidabutar, tokoh yang dipercaya menjadi manusia pertama yang menginjakkan kaki di pulau tersebut.

Di sana wisatawan bisa melihat dari dekat makam Raja Sidabutar, yang berusia 450 tahun sang penguasa Pulau Samosir. Dan rumah adat Batak yang masih terpelihara hingga sekarang.

Tidak jauh dari Tuktuk, wisatawan juga dapat melihat kekayaan budaya masyarakat Huta Siallagan yang cukup legendaris, yakni Batu Kursi Raja Siallagan "Stone Chair Of King Siallagan". Wisatawan akan melihat bebatuan yang dibentuk dan menjadi kursi raja, kursi persidangan dan batu eksekusi di zaman kerajaan Siallagan.

Memasuki Gapura yang bertuliskan Huta Siallagan, wisatawan bak disambut untuk menyusuri apa-apa saja yang menjadi kekayaan budaya marga Siallagan

Perkampungan ini dibangun pada masa raja huta pertama yaitu Raja Laga Siallagan. Kemudian diwariskan kepada Raja Hendrik Siallagan dan seterusnya hingga keturunan Raja Ompu Batu Ginjang Siallagan. Huta Siallagan sejak dahulu dihuni marga Siallagan, hingga sekarang masih dihuni juga oleh keturunan marga Siallagan.

Suasana berbeda saat mengunjungi Danau Toba dan Pulau Samosir, Sumatera Utara, adalah pemandangan perkampungannya yang masih lekat dengan budaya. Khususnya pada bangunan pekuburan yang megah dan besar seperti rumah mewah atau tugu.

Hal itu menjadi pemandangan yang akan sering dilihat karena orang Batak menghormati leluhurnya dengan membangun Monumen atau Tugu dari Lelurnya (cikal bakal dari keluarga besar marga). Ada pula kuburan beton yang tinggi dan berbentuk rumah adat Batak.(Red).

The Emergence Of The Kingdom Of Deli

Order Detail
Overlay Perak.Metro Sumut
As we have discussed above, the Kingdom of Karo Islam led by Datuk-Datuk Silver Overlay finally conquered myself into a new sultanate, who later called the Deli Sultanate. This occurs solely because of the bond of marriage. Wednesday (15/03/2017).

This story, a nobleman from Delhi, India named Amir Muhammad Badaruddin Khan married Princess Chandra Dewi, daughter of the Sultan of Samudra Pasai. From this marriage was born Muhammad Dalik, who later became an admiral because of his might succeed in the Sultanate of Aceh.

Muhammad Dalik, who later also known as Hero and the title of Admiral Gocah Khuja Bintan (some are calling it the Admiral Riding Bintan Bintan or Cut), the Sultan believed to be the representative in the former territory of the Kingdom Haru centered in the area of ​​river-Percut Lalang. To strengthen its position in the region, Gocah Heroes married the sister of King Undo Sunggal (Datuk Itam Surbakti) named Puteri Nang Baluan Beru Surbakti, circa 1632.

Datuk Sunggal is one of the four chief Karo derivative Islam. As we know, on the east coast, there are four large tribal population migration Karo result of the following:

    Like Plates, merga Bukit Sinuaji, Samura, Sikemit, Sembiring.
    Ten Two Kuta, merga Purba, Ketaren, Guru Singa, Sinubulan, Ginting, Sembiring.
    Senembah, merga Barus (the majority) and several other merga in small quantities.
    Serbanyaman, merga Sinulingga, Surbakti, Gaja.

This eliminates the whole house of the clan after converting to Islam and united in four parts in accordance home area, namely:

    Tribe Love Plates.
    Tribe Silver Overlay.
    Senembah tribe.
    Sunggal tribe.

With the existence of the marriage, all four agreed to lift the Admiral Datuk became king. With that event, the Royal Deli stood up, although still under the influence of the Sultanate of Aceh.

In the process of the coronation of King Deli, King Undo Sunggal served as Ulon Promise, which is utter devout faithful of the People Great and the people to the king. Later, the Institute also formed Datuk foursome consisting of four chiefs earlier.

As evidence of history, Deli name listed in the "Daghregister" VOC in Malacca since April 1641, which is written as Dilley, Dilly, Delli, or Delhi. Based on the story above,

Deli exaggeration to mention the name comes from Delhi, because the founders did come from there.

After Gocah hero died, in 1653, his son Tuanku Panglima Perunggit took power and in 1669 announced a separate kingdom of Aceh. The palace is located in Labuhan, about 20 km from Medan.

In 1720, Crown Prince Tuanku Umar expelled, thus causing the outbreak and the establishment of the Sultanate of Deli Serdang. After that, the Sultanate of Deli Sultanate of Siak Sri Indrapura captured and Aceh.

In 1858, the Land Deli belong to the Netherlands after the Sultan of Siak, Sharif Ismail, handed over the power to their land. But in 1861, the Sultanate of Deli officially recognized independence of Siak and Aceh.

Deli Sultanate run an independent foreign policy and is active mainly in the Netherlands to reduce the influence of the kingdom of Aceh and Siak. The heyday of the foreign policy of the Kingdom of Deli is in the hands of Sultan Mahmud Perkasa Alam.

On July 6, 1863, a Dutch youth, Jacobus Nienhuys and some representatives of trading companies JF van Leeuwen en Mainz & Co arrive at Deli. Nienhuys arrived with Van der Valk and Elliot. All three are believed by the same company. But when he saw the condition of Deli still wilderness, Van der Valk and Elliot chose to return to Java. In Java, they are ordinary folk who rented land already tilled and ready for planting.

Nienhuys survive in Deli and get acquainted with the Sultan Mahmud Perkasa Alam. Nienhuys finally granted the right to use the land for 20 years without a rental agreement. The location is at Tanjung Sepassai of 4000 shoulders. One shoulder is equal to 8,000 square meters. From this history of the plantation Deli starts. It did not take long, Land Deli to be excellent. Entrepreneurs, investors and unskilled laborers from around the world flocked to the Deli.

Because such great progress, the Sultan's palace was transferred from Kampung Bahari (Labuan) to Medan, following the completion of construction of Maimoon on 18 May 1891. The authority of the Sultan did not fall. Cultivated land Dutch businessman and later used as gementee Medan, a land grant from the Sultan of Deli, based on the grant deed dated November 30, 1918. The soil is made up of four villages, namely Kampung Kesawan, Kampung Sungai Rengas, Petisah Kampung Hulu and Kampung Petisah Downstream. Sultan did not feel loss with these decisions.

Since then the Dutch developed the Township field as the political and economic center. Medan has become one of the leading cities in Asia at that time. At the same time Silver Overlay still faced the same when the Kings led by Wazir XII Kuta. No stretching significant progress. (Hamnas / Red).

Munculnya Kerajaan Deli

Order Detail
Hamparan Perak.Metro Sumut
Seperti yang telah kita bahas di atas, Kerajaan Karo Islam yang dipimpin Datuk-datuk Hamparan Perak akhirnya menaklukkan diri ke dalam sebuah kesultanan baru, yang dikemudian hari dinamakan Kesultanan Deli. Hal ini terjadi semata-mata karena ikatan perkawinan. Rabu (15/03/2017).

Ceritanya begini, seorang bangsawan dari Delhi, India yang bernama Amir Muhammad Badaruddin Khan menikahi Putri
Chandra Dewi, putri Sultan Samudra Pasai. Dari pernikahan ini lahirlah Muhammad Dalik, yang kemudian karena kepahlawanannya berhasil menjadi laksamana dalam Kesultanan Aceh.

Muhammad Dalik, yang kemudian juga dikenal sebagai Gocah Pahlawan dan bergelar Laksamana Khuja Bintan (ada pula yang menyebutnya Laksamana Kuda Bintan atau Cut Bintan), dipercaya Sultan Aceh untuk menjadi wakil di bekas wilayah Kerajaan Haru yang berpusat di daerah sungai Lalang-Percut. Untuk memperkuat posisinya di daerah tersebut, Gocah Pahlawan menikahi adik Raja Urung Sunggal (Datuk Itam Surbakti) yang bernama Puteri Nang Baluan Beru Surbakti, sekitar tahun 1632.

Datuk Sunggal merupakan salah satu dari empat kepala suku turunan Karo Islam. Sebagaimana kita ketahui, di pesisir timur ada empat kesukuan besar hasil dari migrasi penduduk Karo sbb :
 
    Suka Piring, merga Bukit Sinuaji, Samura, Sikemit, Sembiring.
    Sepuluh Dua Kuta, merga Purba, Ketaren, Guru Singa, Sinubulan, Ginting, Sembiring.
    Senembah, merga Barus (mayoritas) dan beberapa merga lain dalam jumlah kecil.
    Serbanyaman, merga Sinulingga, Surbakti, Gaja.

Seluruh kaum ini menghilangkan marganya setelah masuk Islam dan bersatu dalam 4 suku sesuai daerah tempat tinggalnya, yakni :

    Suku Suka Piring.
    Suku Hamparan Perak.
    Suku Senembah.
    Suku Sunggal.

Dengan adanya pernikahan tersebut, ke empat datuk tersebut sepakat mengangkat Laksamana tersebut menjadi raja. Dengan peristiwa itu, Kerajaan Deli pun berdiri, meski masih di bawah pengaruh Kesultanan Aceh.

Dalam proses penobatan Raja Deli tersebut, Raja Urung Sunggal bertugas selaku Ulon Janji, yaitu mengucapkan taat setia dari Orang-Orang Besar dan rakyat kepada raja. Kemudian, terbentuk pula Lembaga Datuk Berempat yang terdiri dari 4 kepala suku tadi.

Sebagai bukti sejarah, nama Deli tercantum dalam “Daghregister” VOC di Malaka sejak April 1641, yang dituliskan sebagai Dilley, Dilly, Delli, atau Delhi. Berdasarkan cerita di atas, tidak berlebihan jika disebutkan nama Deli berasal dari Delhi, karena pendirinya memang berasal dari sana.

Setelah Gocah Pahlawan meninggal dunia, pada tahun 1653, putranya Tuanku Panglima Perunggit mengambil alih kekuasaan dan pada tahun 1669 mengumumkan memisahkan kerajaannya dari Aceh. Istananya berada di Labuhan, kira-kira 20 km dari Medan.

Pada tahun 1720, putra mahkota Tuanku Umar diusir, sehingga menyebabkan pecahnya Deli dan dibentuknya Kesultanan Serdang. Setelah itu, Kesultanan Deli direbut Kesultanan Siak Sri Indrapura dan Aceh.

Pada tahun 1858, Tanah Deli menjadi milik Belanda setelah Sultan Siak, Sharif Ismail, menyerahkan tanah kekuasaannya tersebut kepada mereka. Namun pada tahun 1861, Kesultanan Deli secara resmi diakui merdeka dari Siak maupun Aceh.

Kesultanan Deli menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif terutama dengan Belanda untuk mengurangi pengaruh kerajaan Aceh dan Siak. Masa kejayaan politik luar negeri Kerajaan Deli berada di tangan Sultan Mahmud Perkasa Alam.

Pada tanggal 6 Juli 1863, seorang pemuda Belanda, Jacobus Nienhuys dan beberapa wakil perusahaan dagang JF van Leeuwen en Mainz & Co tiba di Deli. Nienhuys tiba bersama Van der Valk dan Elliot. Ketiganya dipercaya oleh perusahaan yang sama. Tapi begitu melihat kondisi Deli yang masih hutan belantara, Van der Valk dan Elliot memilih pulang ke Jawa. Di Jawa, mereka biasa menyewa lahan rakyat yang sudah digarap dan siap tanam.

Nienhuys bertahan di Deli dan berkenalan dengan Sultan Mahmud Perkasa Alam. Akhirnya Nienhuys diberikan hak pakai lahan selama 20 tahun tanpa perjanjian sewa. Lokasinya berada di Tanjung Sepassai seluas 4.000 bahu. Satu bahu sama dengan 8.000 meter bujur sangkar. Dari sinilah sejarah perkebunan Deli dimulai. Tidak butuh waktu yang lama, Tanah Deli menjadi primadona. Pengusaha, penanam modal maupun buruh kasar dari seluruh dunia berbondong-bondong datang ke Deli.

Karena kemajuan yang demikian hebat, istana Sultan pun dipindahkan dari Kampung Bahari (Labuhan) ke Medan, menyusul selesainya pembangunan Istana Maimoon pada 18 Mei 1891. Kewibawaan Sultan sama sekali tidak jatuh. Tanah yang digarap pengusaha Belanda dan yang kemudian dijadikan sebagai gementee Medan, merupakan tanah hibah dari Sultan Deli, berdasarkan akte Hibah tertanggal 30 Nopember 1918.  Tanah yang dimaksud terdiri dari 4 kampung, yakni Kampung Kesawan, Kampung Sungai Rengas, Kampung Petisah Hulu dan Kampung Petisah Hilir. Sultan tidak merasa rugi dengan keputusannya tersebut.

Sejak saat itu Belanda mengembangkan Kotapraja Medan sebagai pusat politik maupun ekonominya. Medan pun menjadi salah satu kota terkemuka di Asia pada masa itu. Pada saat yang sama Hamparan Perak masih berwajah yang sama ketika dipimpin oleh Raja-raja Wazir XII Kuta. Tidak ada geliat kemajuan yang berarti.(Hamnas/Red).


Origin of name Silver Overlay Linked to Deli

Order Detail
Overlay Perak.Metro Sumut
We did not get the data adequately Silver Overlay from Chinese sources or Europe. In this case, the only document that we can rely on is the Old Manuscript History Silver Overlay. Wednesday (15/03/2017).

A book that tells lineage progenitor-progenitor Silver Overlay is made of leather alim (bark) and is written in the language and script Karo. According to sources Ten Two Kuta, the manuscript text is copied into the Malay language (Malay Arabic writing) in 1274 H (approximately 1857 AD).

Then copied again and passed into the Malay language history beraksara Latin on December 29, 1916. The original manuscript destroyed by the social revolution on March 4, 1946, but the committee Anniversary of the city of Medan has a copy of it in the Malay language. Proud, old manuscripts have become one of the supporting evidence in finding Anniversary of the city of Medan agreed Anniversary Committee for Medan city fell on July 1, 1590 day shift so Gementee Medan on April 1, 1909.

According to the old text, Datuk-Datuk Silver Overlay is a direct descendant of Sisinga Manga King who reigns in Bakkara. The story can be described as follows:

Si Singamangaraja (estimated as father of SM King I) is the reigning monarch at Bakkara. He married Najeli handler who is the daughter Jalipa, a great man. The marriage of SM Raja obtain two children. First named Tuan Menjolong and son both named Mr. Si King Hita.

As the first child, Mr Menjolong automatically named as successor to the throne, while Si King Hita, -because did not have hope again be king in Bakkara- decided to wander with her grandmother Jalipa.

In Tanah Karo, precisely on Mount Sibayak, Si King Hita mysteriously lost her grandmother. With sad he returned to Bakkara, marry and make settlements in the feed. Here all three children were born. Each named Patimpus, Feed and Balige.

Patimpus inherited his father Si King Hita concept to set up villages in other areas. Feed her brother became king in Pekan, and Balige became king in Balige anyway, but Patimpus prefer responsibility imposed upon his father, Si King Hita to

wander. How much more to discover and bring up the name of his great-grandfather Jalipa which turned in Kaban.

In each place she found Patimpus married and have children. In each place anyway he made a settlement and celebrating children in villages like Benara, Kuluhu, Solahan, Paropo, Stone, Liang Land, Tongging, Aji Ginger, Rock, Purbaji and Durian Kingdoms. Patimpus also brilliantly rendered reconcile Kaban and Teran are overwritten riot. He also raising the name Jalipa in Kaban, and later became supreme leader in the Karo plateau.

After celebrating one of his children in Durian kingdom, Patimpus back to Aji Ginger. From there he heard the magic a great scholar from Java named Datuk Kota Bangun. Out of curiosity, Patimpus left Aji Ginger to meet with the Datuk. This is one of the most famous scenes in the script of Silver Overlay.

It took one year for Patimpus to meet Datuk Kota Bangun. During the journey to Kota Bangun, Patimpus many villages set up for his people.

After settling for 3 months in Sei Sikambing, Master Patimpus go to Kota Bangun and managed to meet the Datuk. The scene seemed most attention when he challenged the progenitor in a fit and proper test as a magic. Datuk welcomed the challenge Patimpus with confidence as the stakes. If you lose Patimpus should convert to Islam, but if you win, the incoming Datuk Batak.

In short, losing in a penalty Patimpus the supernatural powers and must fulfill its promise to convert to Islam. However Patimpus ask tempo 3 months of having to go back to the mountain to tell his people as well as to hold a farewell custom events. This is where the magic Datuk Kota Bangun again thrilling Patimpus. Time travel to the mountain trimmed to blink of an eye, and Patimpus only be given within 15 days to hold a traditional ceremony on the mountain there. After returning from the mountain, then becomes pupil Patimpus Datuk Kota Bangun for 3 years.

After converting to Islam, the name of Master Patimpus become very familiar in the neighborhood. He would often go back and forth between Kota Bangun-Sei Sikambing and sometimes to the mountain. On one occasion, Patimpus passed by the palace and see the island Brayan Brayan Island descent daughter Hali Commander surname Tarin was playing alongside her ladies. Her ladies spontaneously refer to Master Patimpus as he joked that it was the husband candidates princess, a Batak who converted to Islam. The princess did not accept and even spit on the ground while claiming ketidaksudiannya. Hearing the scorn it, Patimpus hurt. He returned to Sei Sikambing and put a curse on the princess so mad. In the end is fast approaching Patimpus role as healer who managed to cure the princess. In return, the king married his daughter to Guru Patimpus. From the results of this marriage two children Patimpus gain. The elder named Kolok and a small one named kecik. Both Patimpus child is then sent to Aceh to learn the Koran.

Both sons Patimpus very quickly mastered the Qur'an so that praised both names up until the Sultan of Aceh. When the Sultan of Aceh, the two children Patimpus stated that they came from Deli and his father is the ruler in

Ten Two Kuta. A statement indicating that Patimpus politically powerful in Ten Two Kuta.

Sultan giving new names to the children Patimpus descent Commander Hali (King Island Brayan) is. The elder named Old and young Hafdza named Hafdza Young, as both memorized the Qur'an. Sultan then asked both of them back to the Land Deli for Master Patimpus reportedly in senility.

Patimpus to welcome her with joy. He gathered all his people from the coast to the mountains to celebrate his son's success in studying in Aceh. But not long after Patimpus also died and was buried on the island Bening (later the experts of Unimed claimed to have found the tomb of Master Patimpus in Silver Overlay).

Old Hafdza not interested in becoming the successor to the throne because she claimed more interested in being teachers, so that the power was handed over to Hafdza Young. Hafdza Old chose to spend her age to gardening in Sei Sikambing. The story was finished in genealogy because they do not have children. Dynasty XII Kuta forwarded by Hafdza Young ruled in Medan.

After Hafdza Young died, power passed to his son Muhammad Shah. He has three children each named Masanah, Ahmad and Mahmud.

Muhammad Shah made a village in Kuala Berkalla and Falls. First and second children have a bad attitude that Muhammad Shah relied on the youngest child as his successor. Alarmed by the threat of the evil of her two children, Muhammad Shah was celebrating his son is the smallest (Mahmud) in Falls. Automatically move the capital Ten of Two Cities to the Falls. While staying on the island Musannah Bening and Ahmad in Medan.

Datuk Mahmud has 3 children anyway. The first named Ali, the second and the third Zainal unnamed, but died in a virgin state.

After the death of Datuk Mahmud, her first child who was given the title Datuk Ali transferred the seat of government to the Chinese fur. He has two children. The elder named Banu Hashim while the little woman named Bujang Sembah who later married the Sultan Amaluddin.

Banu Hashim to make settlements in the Base Buluh. And after the death of Datuk Ali, Banu Hashim took over the throne and move to the City XII Base Buluh.

5th generation of this Patimpus has 3 children. Each named Sultan Ahmad, Kemala Series and Series Banun.

Banu Hashim Sultan Ahmad died young while still small. Therefore the kingdom held temporarily by the Datuk Bandar Sultan Ahmad sapai until adulthood. In this time, the mother is married with Datuk Ahmad Sultan Central Klumpang. He settled there and berkubur there too.

After quite old Sultan Ahmad Amaluddin Mangendar appointed by the Sultan (Sultan Deli) to lead the City XII with the title Commander of Faithful King City Wazir XII. It is obvious that the XII Kuta has become one failed in the Deli Sultanate.

Because Reed sink Base Datuk Sei moved his court to the Old. But before long the place was drowned anyway. Move Datuk Setia Raja create a village elsewhere. Said when opening the township TSB, Datuk Setia Raja find a piece of silver that lay there. That is why the place is called the Silver Overlay.

From the story above, we can conclude that the Datuk Setia Raja is the founder of the village of Silver Overlay. He died at the age of 119 years. It was he who settled in the first progenitor Silver Overlay. Then successive forwarded by Justice Datuk, Datuk Gombak, Datuk Hafiz Haberham, Datuk Syariful Azas Haberham and now Datuk Fair Freddy Haberham. Pedigree sequentially Datuk-Datuk / Undo XII Wazir City can be seen as follows:

    Si Singamangaraja
    Mr. Si King Hita
    teachers Patimpus
    Datuk Hafiz Young
    Datuk Muhammad Shah Army
    Datuk Mahmud
    Datuk Ali
    Banu Hashim
    Sri Sultan Ahmad the title Datuk Setia Raja
    Datuk Adil
    Datuk Gombak
    Datuk Hafiz Haberham
    Datuk Syariful Azas Haberham
    Justice Datuk Freddy Haberham

Until now Ten Two Kuta still exist and chaired by Justice Datuk Freddy Haberham, although his powers only within the scope of traditional Malay resam who along with three other progenitor entitled to appoint Sultan Deli. Kuta while eleven others can not progress unless we know little. For those interested please browse-kuta kuta heritage Patimpus below:

    Benara
    Kuluhu
    Stone
    mistake
    Paropa
    Liang Land
    Tongging
    Aji Ginger (Ginger Kaban)
    Coral reef
    Perbaji
    durian kingdom

(Hamnas/Red).



Asal Usul Nama Hamparan Perak Dan Hubungannya Dengan Deli

Order Detail
Hamparan Perak.Metro Sumut
Kita tidak mendapatkan data memadai tentang Hamparan Perak dari sumber-sumber Cina ataupun Eropa. Dalam hal ini, satu-satunya dokumen yang dapat kita andalkan adalah Naskah Tua Riwayat Hamparan Perak. Rabu (15/03/2017).

Buku yang menceritakan silsilah datuk-datuk Hamparan Perak ini terbuat dari kulit alim (kulit kayu) dan ditulis dalam bahasa dan aksara Karo. Menurut sumber Sepuluh Dua Kuta, teks naskah ini disalin ke dalam bahasa Melayu (tulisan arab melayu) pada tahun 1274 H (kira-kira tahun 1857 M).

Kemudian disalin lagi dan diteruskan riwayatnya ke dalam bahasa Melayu beraksara Latin pada 29 Desember 1916. Naskah aslinya musnah akibat revolusi sosial pada 04 Maret 1946, namun Panitia Hari Jadi Kota Medan memiliki salinannya dalam bahasa Melayu. Patut dibanggakan, naskah tua ini menjadi salah satu alat bukti pendukung dalam menemukan Hari Jadi Kota Medan yang disepakati Tim Panitia Hari Jadi Kota Medan jatuh pada tanggal 01 Juli 1590 menggeser hari jadi Gementee Medan pada 01 April 1909.

Menurut teks tua tersebut, Datuk-datuk Hamparan Perak merupakan keturunan langsung dari Sisinga Manga Raja yang bertahta di Bakkara. Ceritanya dapat diuraikan sbb :

Si Singamangaraja (diperkirakan sbg Ayah dari SM Raja I) adalah raja yang berkuasa di Bakkara. Beliau menikahi Pawang Najeli yang merupakan putri Jalipa, seorang tokoh besar. Dari perkawinannya tersebut SM Raja memperoleh dua orang anak. Yang Pertama bernama Tuan Menjolong dan anak kedua diberi nama Tuan Si Raja Hita.

Sebagai anak pertama, Tuan Menjolong otomatis dinobatkan sebagai penerus tahta, sementara Si Raja Hita, -karena tidak punya pengharapan lagi menjadi raja di Bakkara- memutuskan mengembara bersama neneknya Jalipa.

Di Tanah Karo, tepatnya di Gunung Sibayak, Si Raja Hita kehilangan neneknya secara misterius. Dengan masygul dia kembali ke Bakkara, menikah dan membuat perkampungan di Pakan. Di sini ke 3 anaknya lahir. Masing-masing diberi nama Patimpus, Pakan dan Balige.

Patimpus mewarisi konsep ayahnya Si Raja Hita untuk mendirikan kampung di daerah lain.  Adiknya Pakan menjadi raja di Pekan, dan Balige menjadi raja pula di Balige, namun Patimpus lebih memilih memikul tanggung jawab yang dibebankan ayahnya, Si Raja Hita untuk mengembara. Terlebih-lebih lagi untuk menemukan dan membesarkan nama kakek buyutnya Jalipa yang ternyata ada di Kaban.

Ditiap tempat yang ditemukannya Patimpus menikah dan mempunyai anak. Di setiap tempat pula dia membuat perkampungan dan merajakan anak-anaknya di kampung-kampung seperti Benara, Kuluhu, Solahan, Paropo, Batu, Liang Tanah, Tongging, Aji Jahe, Batu Karang, Purbaji dan Durian Kerajaan. Patimpus juga secara gemilang berjasa mendamaikan Kaban dan Teran yang ditimpa huru hara. Dia juga membesarkan nama Jalipa di Kaban, dan kemudian menjadi pemimpin tertinggi di dataran Karo.

Setelah merajakan salah seorang anaknya di Durian Kerajaan, Patimpus kembali ke Aji Jahe. Dari situ dia mendengar kesaktian seorang ulama besar dari Tanah Jawa bernama Datuk Kota Bangun. Karena penasaran, Patimpus meninggalkan Aji Jahe untuk bertemu dengan sang Datuk. Inilah salah satu adegan paling masyhur dalam naskah Hamparan Perak.

Butuh waktu satu tahun bagi Patimpus untuk bertemu Datuk Kota Bangun. Selama perjalanannya menuju Kota Bangun, Patimpus banyak mendirikan kampung-kampung untuk kaumnya.

Setelah menetap selama 3 bulan di Sei Sikambing, Guru Patimpus pergi ke Kota Bangun dan berhasil menemui sang Datuk. Adegan paling menyita perhatian tampak ketika dia menantang sang datuk dalam uji kelayakan dan kepatutan sebagai seorang sakti. Datuk menyambut baik tantangan Patimpus dengan keyakinan sebagai taruhannya. Jika kalah Patimpus harus masuk Islam, tapi jika menang, sang Datuk yang masuk Batak.

Singkat kata, Patimpus kalah dalam adu kesaktian tersebut dan harus memenuhi janjinya untuk masuk Islam. Namun Patimpus meminta tempo 3 bulan karena harus kembali ke gunung untuk memberitahu kaumnya sekaligus untuk mengadakan acara adat perpisahan. Disinilah kesaktian Datuk Kota Bangun lagi-lagi menggetarkan hati Patimpus. Waktu perjalanan ke gunung dipangkas menjadi sekejap mata, dan Patimpus hanya diberi tempo 15 hari untuk mengadakan acara adat di gunung sana. Setelah kembali dari gunung, Patimpus kemudian menjadi murid Datuk Kota Bangun selama 3 tahun.

Setelah masuk Islam, nama Guru Patimpus menjadi sangat familiar di lingkungannya. Dia pun sering bolak-balik antara Kota Bangun-Sei Sikambing dan kadang-kadang ke gunung. Pada suatu kesempatan, Patimpus melewati istana Pulau Brayan dan melihat putri Pulau Brayan keturunan Panglima Hali bermarga Tarigan sedang bermain bersama dayang-dayangnya. Dayang-dayangnya secara spontan menunjuk kepada Guru Patimpus sembari bergurau bahwa itulah calon suami Tuan Putri, seorang Batak yang masuk Islam. Tuan Putri tidak terima dan malah meludah ke tanah sambil menyatakan ketidaksudiannya. Mendengar cemooh itu, Patimpus sakit hati. Dia pulang ke Sei Sikambing dan mengguna-gunai sang Putri sehingga menjadi gila. Pada akhirnya Patimpus jualah yang berperan sebagai tabib yang berhasil menyembuhkan sang putri. Sebagai imbalannya, sang Raja menikahkan putrinya dengan Guru Patimpus. Dari hasil pernikahan ini Patimpus memperoleh dua orang anak. Yang tua bernama Kolok dan yang kecil dinamai kecik. Kedua anak ini kemudian dikirim Patimpus ke Aceh untuk belajar Al Qur’an.

Kedua putra Patimpus sangat cepat menguasai Al Qur’an sehingga masyhurlah nama keduanya hingga sampai kepada Sultan Aceh. Ketika menghadap Sultan Aceh, kedua anak Patimpus menyatakan bahwa mereka berasal dari Deli dan ayahnya adalah penguasa di Sepuluh Dua Kuta. Sebuah pernyataan yang menunjukkan bahwa Patimpus berkuasa secara politik di Sepuluh Dua Kuta.

Sultan Aceh memberikan nama baru kepada anak-anak Patimpus keturunan Panglima Hali (Raja Pulau Brayan) tersebut. Yang tua diberi nama Hafdza Tua dan yang muda diberi nama Hafdza Muda, karena keduanya hapal Al Qur’an. Sultan Aceh kemudian meminta keduanya kembali ke Tanah Deli karena Guru Patimpus dikabarkan dalam keadaan uzur.

Patimpus menyambut kedatangan anaknya dengan penuh sukacita. Beliau mengumpulkan seluruh kaumnya dari pesisir hingga ke gunung untuk merayakan keberhasilan anaknya dalam menuntut ilmu di Aceh. Namun tak berapa lama kemudian Patimpus pun meninggal dunia dan dimakamkan di Pulau Bening (belakangan para ahli dari Unimed menyatakan telah menemukan makam Guru Patimpus di Hamparan Perak).

Hafdza Tua tidak berminat menjadi penerus tahta karena dia mengaku lebih tertarik menjadi ulama, sehingga tampuk kekuasaan tersebut diserahkan kepada Hafdza Muda. Hafdza Tua memilih menghabiskan usianya dengan berkebun di Sei Sikambing. Kisahnya pun tamat dalam silsilah karena tidak mempunyai anak. Dinasti XII Kuta diteruskan oleh Hafdza Muda yang memerintah di Medan.

Setelah Hafdza Muda meninggal dunia, kekuasaan beralih ke tangan anaknya yang bernama Muhammad Syah. Dia mempunyai 3 anak masing-masing bernama Masanah, Ahmad dan Mahmud.

Muhammad Syah membuat kampung di Kuala Berkalla dan Terjun. Anak pertama dan kedua mempunyai perangai yang buruk sehingga Muhammad Syah mengandalkan anak paling kecil sebagai penerusnya. Karena khawatir dengan ancaman kedua anaknya yang jahat itu, Muhammad Syah merajakan anaknya yang paling kecil (Mahmud) di Terjun. Secara otomatis pindahlah ibukota Sepuluh Dua Kota ke Terjun. Sementara Musannah tinggal di Pulau Bening dan Ahmad di Medan.

Datuk Mahmud mempunyai 3 orang anak pula. Yang pertama diberi nama Ali, yang kedua Zainal dan yang ketiga tidak disebutkan namanya, tetapi mati dalam keadaan perawan.

Setelah kematian Datuk Mahmud, anaknya yang pertama yang diberi gelar Datuk Ali mengalihkan pusat pemerintahan ke Bulu Cina. Dia mempunyai 2 anak. Yang tua bernama Banu Hasyim sedangkan yang kecil seorang perempuan yang diberi nama Bujang Sembah yang kelak menikah dengan Sultan Amaluddin.

Banu Hasyim membuat perkampungan di Pangkalan Buluh. Dan sepeninggal Datuk Ali, Banu Hasyim mengambil alih tahta dan memindahkan XII Kota ke Pangkalan Buluh.

Generasi ke 5 dari Patimpus ini mempunyai 3 orang anak. Masing-masing bernama Sultan Ahmad, Seri Kemala dan Seri Banun.

Banu Hasyim mati muda sementara Sultan Ahmad masih kecil. Karenanya kerajaan dijabat sementara oleh Datuk Bandar Sapai hingga Sultan Ahmad dewasa. Dalam masa itu pula, ibu Sultan Ahmad menikah dengan Datuk Tengah dari Klumpang. Beliau menetap di sana dan berkubur di sana juga.

Setelah cukup umurnya Sultan Ahmad diangkat oleh Sultan Amaluddin Mangendar (Sultan Deli) untuk memimpin XII Kota dengan gelar Panglima Setia Raja Wazir XII Kota.  Nyatalah bahwa XII Kuta sudah menjadi salah satu urung dalam Kesultanan Deli.

Karena Pangkalan Buluh tenggelam Datuk memindahkan istananya ke Sei Lama. Namun tak berapa lama tempat itu pun tenggelam pula. Pindahlah Datuk Setia Raja membuat kampung di tempat lain. Konon pada saat membuka perkampungan tsb, Datuk Setia Raja menemukan selembar perak yang terhampar di situ. Itulah sebabnya kenapa tempat ini disebut sebagai Hamparan Perak.

Dari cerita di atas dapat kita simpulkan bahwa Datuk Setia Raja adalah pendiri kampung Hamparan Perak. Beliau meninggal dalam usia 119 tahun. Beliaulah datuk pertama yang menetap di Hamparan Perak. Kemudian secara beruntun diteruskan oleh Datuk Adil, Datuk Gombak, Datuk Hafiz Haberham, Datuk Syariful Azas Haberham dan sekarang Datuk Adil Freddy Haberham. Secara berurut Silsilah Datuk-datuk / Wazir Urung XII Kota dapat dilihat sbb :
    Si Singamangaraja
    Tuan Si Raja Hita
    Guru Patimpus
    Datuk Hafiz Muda
    Datuk Muhammad Syah Darat
    Datuk Mahmud
    Datuk Ali
    Banu Hasyim
    Sultan Sri Ahmad gelar Datuk Setia Raja
    Datuk Adil
    Datuk Gombak
    Datuk Hafiz Haberham
    Datuk Syariful Azas Haberham
    Datuk Adil Freddy Haberham

Sampai saat ini Sepuluh Dua Kuta masih eksis dan dijabat oleh Datuk Adil Freddy Haberham, meski kekuasaannya hanya dalam lingkup adat resam melayu saja yang bersama tiga datuk lainnya berhak mengangkat Sultan Deli. Sementara sebelas kuta yang lain tidak dapat kita ketahui perkembangannya kecuali sedikit. Bagi yang berminat silakan menelusuri kuta-kuta peninggalan Patimpus di bawah ini :

    Benara
    Kuluhu
    Batu
    Salahan
    Paropa
    Liang Tanah
    Tongging
    Aji Jahe (Kaban Jahe)
    Batu Karang
    Perbaji
    Durian Kerajaan

 (Hamnas/Red).
Portal Resmi Media Online Media Metro Sumut, Penerbit : PT Chrissa Cakra Wijayakesuma (CCW), SIUP-PM : No.01451/1.824.271, NPWP : 21.057.287.1-013.000, SK.Menkum HAM RI : AHU-94803.AH.01.01.Tahun 2008.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. metrosumut.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger