Asal Usul Nama Hamparan Perak Dan Hubungannya Dengan Deli
Hamparan
Perak.Metro Sumut
Kita
tidak mendapatkan data memadai tentang Hamparan Perak dari sumber-sumber Cina
ataupun Eropa. Dalam hal ini, satu-satunya dokumen yang dapat kita andalkan
adalah Naskah Tua Riwayat Hamparan Perak. Rabu (15/03/2017).


Menurut
teks tua tersebut, Datuk-datuk Hamparan Perak merupakan keturunan langsung dari
Sisinga Manga Raja yang bertahta di Bakkara. Ceritanya dapat diuraikan sbb :
Si
Singamangaraja (diperkirakan sbg Ayah dari SM Raja I) adalah raja yang berkuasa
di Bakkara. Beliau menikahi Pawang Najeli yang merupakan putri Jalipa, seorang
tokoh besar. Dari perkawinannya tersebut SM Raja memperoleh dua orang anak.
Yang Pertama bernama Tuan Menjolong dan anak kedua diberi nama Tuan Si Raja
Hita.
Sebagai
anak pertama, Tuan Menjolong otomatis dinobatkan sebagai penerus tahta,
sementara Si Raja Hita, -karena tidak punya pengharapan lagi menjadi raja di
Bakkara- memutuskan mengembara bersama neneknya Jalipa.
Di
Tanah Karo, tepatnya di Gunung Sibayak, Si Raja Hita kehilangan neneknya secara
misterius. Dengan masygul dia kembali ke Bakkara, menikah dan membuat
perkampungan di Pakan. Di sini ke 3 anaknya lahir. Masing-masing diberi nama
Patimpus, Pakan dan Balige.
Patimpus
mewarisi konsep ayahnya Si Raja Hita untuk mendirikan kampung di daerah
lain. Adiknya Pakan menjadi raja di
Pekan, dan Balige menjadi raja pula di Balige, namun Patimpus lebih memilih
memikul tanggung jawab yang dibebankan ayahnya, Si Raja Hita untuk mengembara.
Terlebih-lebih lagi untuk menemukan dan membesarkan nama kakek buyutnya Jalipa
yang ternyata ada di Kaban.
Ditiap
tempat yang ditemukannya Patimpus menikah dan mempunyai anak. Di setiap tempat
pula dia membuat perkampungan dan merajakan anak-anaknya di kampung-kampung
seperti Benara, Kuluhu, Solahan, Paropo, Batu, Liang Tanah, Tongging, Aji Jahe,
Batu Karang, Purbaji dan Durian Kerajaan. Patimpus juga secara gemilang berjasa
mendamaikan Kaban dan Teran yang ditimpa huru hara. Dia juga membesarkan nama
Jalipa di Kaban, dan kemudian menjadi pemimpin tertinggi di dataran Karo.
Setelah
merajakan salah seorang anaknya di Durian Kerajaan, Patimpus kembali ke Aji
Jahe. Dari situ dia mendengar kesaktian seorang ulama besar dari Tanah Jawa
bernama Datuk Kota Bangun. Karena penasaran, Patimpus meninggalkan Aji Jahe
untuk bertemu dengan sang Datuk. Inilah salah satu adegan paling masyhur dalam
naskah Hamparan Perak.
Butuh
waktu satu tahun bagi Patimpus untuk bertemu Datuk Kota Bangun. Selama
perjalanannya menuju Kota Bangun, Patimpus banyak mendirikan kampung-kampung
untuk kaumnya.
Setelah
menetap selama 3 bulan di Sei Sikambing, Guru Patimpus pergi ke Kota Bangun dan
berhasil menemui sang Datuk. Adegan paling menyita perhatian tampak ketika dia
menantang sang datuk dalam uji kelayakan dan kepatutan sebagai seorang sakti.
Datuk menyambut baik tantangan Patimpus dengan keyakinan sebagai taruhannya.
Jika kalah Patimpus harus masuk Islam, tapi jika menang, sang Datuk yang masuk
Batak.
Singkat
kata, Patimpus kalah dalam adu kesaktian tersebut dan harus memenuhi janjinya
untuk masuk Islam. Namun Patimpus meminta tempo 3 bulan karena harus kembali ke
gunung untuk memberitahu kaumnya sekaligus untuk mengadakan acara adat
perpisahan. Disinilah kesaktian Datuk Kota Bangun lagi-lagi menggetarkan hati
Patimpus. Waktu perjalanan ke gunung dipangkas menjadi sekejap mata, dan
Patimpus hanya diberi tempo 15 hari untuk mengadakan acara adat di gunung sana.
Setelah kembali dari gunung, Patimpus kemudian menjadi murid Datuk Kota Bangun
selama 3 tahun.
Setelah
masuk Islam, nama Guru Patimpus menjadi sangat familiar di lingkungannya. Dia
pun sering bolak-balik antara Kota Bangun-Sei Sikambing dan kadang-kadang ke
gunung. Pada suatu kesempatan, Patimpus melewati istana Pulau Brayan dan
melihat putri Pulau Brayan keturunan Panglima Hali bermarga Tarigan sedang
bermain bersama dayang-dayangnya. Dayang-dayangnya secara spontan menunjuk
kepada Guru Patimpus sembari bergurau bahwa itulah calon suami Tuan Putri,
seorang Batak yang masuk Islam. Tuan Putri tidak terima dan malah meludah ke
tanah sambil menyatakan ketidaksudiannya. Mendengar cemooh itu, Patimpus sakit
hati. Dia pulang ke Sei Sikambing dan mengguna-gunai sang Putri sehingga
menjadi gila. Pada akhirnya Patimpus jualah yang berperan sebagai tabib yang
berhasil menyembuhkan sang putri. Sebagai imbalannya, sang Raja menikahkan
putrinya dengan Guru Patimpus. Dari hasil pernikahan ini Patimpus memperoleh
dua orang anak. Yang tua bernama Kolok dan yang kecil dinamai kecik. Kedua anak
ini kemudian dikirim Patimpus ke Aceh untuk belajar Al Qur’an.
Kedua
putra Patimpus sangat cepat menguasai Al Qur’an sehingga masyhurlah nama
keduanya hingga sampai kepada Sultan Aceh. Ketika menghadap Sultan Aceh, kedua
anak Patimpus menyatakan bahwa mereka berasal dari Deli dan ayahnya adalah
penguasa di Sepuluh Dua Kuta. Sebuah pernyataan yang menunjukkan bahwa Patimpus
berkuasa secara politik di Sepuluh Dua Kuta.
Sultan
Aceh memberikan nama baru kepada anak-anak Patimpus keturunan Panglima Hali
(Raja Pulau Brayan) tersebut. Yang tua diberi nama Hafdza Tua dan yang muda
diberi nama Hafdza Muda, karena keduanya hapal Al Qur’an. Sultan Aceh kemudian
meminta keduanya kembali ke Tanah Deli karena Guru Patimpus dikabarkan dalam
keadaan uzur.
Patimpus
menyambut kedatangan anaknya dengan penuh sukacita. Beliau mengumpulkan seluruh
kaumnya dari pesisir hingga ke gunung untuk merayakan keberhasilan anaknya
dalam menuntut ilmu di Aceh. Namun tak berapa lama kemudian Patimpus pun
meninggal dunia dan dimakamkan di Pulau Bening (belakangan para ahli dari
Unimed menyatakan telah menemukan makam Guru Patimpus di Hamparan Perak).
Hafdza
Tua tidak berminat menjadi penerus tahta karena dia mengaku lebih tertarik
menjadi ulama, sehingga tampuk kekuasaan tersebut diserahkan kepada Hafdza
Muda. Hafdza Tua memilih menghabiskan usianya dengan berkebun di Sei Sikambing.
Kisahnya pun tamat dalam silsilah karena tidak mempunyai anak. Dinasti XII Kuta
diteruskan oleh Hafdza Muda yang memerintah di Medan.
Setelah
Hafdza Muda meninggal dunia, kekuasaan beralih ke tangan anaknya yang bernama
Muhammad Syah. Dia mempunyai 3 anak masing-masing bernama Masanah, Ahmad dan
Mahmud.
Muhammad
Syah membuat kampung di Kuala Berkalla dan Terjun. Anak pertama dan kedua
mempunyai perangai yang buruk sehingga Muhammad Syah mengandalkan anak paling
kecil sebagai penerusnya. Karena khawatir dengan ancaman kedua anaknya yang
jahat itu, Muhammad Syah merajakan anaknya yang paling kecil (Mahmud) di
Terjun. Secara otomatis pindahlah ibukota Sepuluh Dua Kota ke Terjun. Sementara
Musannah tinggal di Pulau Bening dan Ahmad di Medan.
Datuk
Mahmud mempunyai 3 orang anak pula. Yang pertama diberi nama Ali, yang kedua
Zainal dan yang ketiga tidak disebutkan namanya, tetapi mati dalam keadaan
perawan.
Setelah
kematian Datuk Mahmud, anaknya yang pertama yang diberi gelar Datuk Ali mengalihkan
pusat pemerintahan ke Bulu Cina. Dia mempunyai 2 anak. Yang tua bernama Banu
Hasyim sedangkan yang kecil seorang perempuan yang diberi nama Bujang Sembah
yang kelak menikah dengan Sultan Amaluddin.
Banu
Hasyim membuat perkampungan di Pangkalan Buluh. Dan sepeninggal Datuk Ali, Banu
Hasyim mengambil alih tahta dan memindahkan XII Kota ke Pangkalan Buluh.
Generasi
ke 5 dari Patimpus ini mempunyai 3 orang anak. Masing-masing bernama Sultan
Ahmad, Seri Kemala dan Seri Banun.
Banu
Hasyim mati muda sementara Sultan Ahmad masih kecil. Karenanya kerajaan dijabat
sementara oleh Datuk Bandar Sapai hingga Sultan Ahmad dewasa. Dalam masa itu
pula, ibu Sultan Ahmad menikah dengan Datuk Tengah dari Klumpang. Beliau
menetap di sana dan berkubur di sana juga.
Setelah
cukup umurnya Sultan Ahmad diangkat oleh Sultan Amaluddin Mangendar (Sultan
Deli) untuk memimpin XII Kota dengan gelar Panglima Setia Raja Wazir XII
Kota. Nyatalah bahwa XII Kuta sudah
menjadi salah satu urung dalam Kesultanan Deli.
Karena
Pangkalan Buluh tenggelam Datuk memindahkan istananya ke Sei Lama. Namun tak
berapa lama tempat itu pun tenggelam pula. Pindahlah Datuk Setia Raja membuat
kampung di tempat lain. Konon pada saat membuka perkampungan tsb, Datuk Setia
Raja menemukan selembar perak yang terhampar di situ. Itulah sebabnya kenapa
tempat ini disebut sebagai Hamparan Perak.
Dari
cerita di atas dapat kita simpulkan bahwa Datuk Setia Raja adalah pendiri
kampung Hamparan Perak. Beliau meninggal dalam usia 119 tahun. Beliaulah datuk
pertama yang menetap di Hamparan Perak. Kemudian secara beruntun diteruskan
oleh Datuk Adil, Datuk Gombak, Datuk Hafiz Haberham, Datuk Syariful Azas
Haberham dan sekarang Datuk Adil Freddy Haberham. Secara berurut Silsilah
Datuk-datuk / Wazir Urung XII Kota dapat dilihat sbb :
Si Singamangaraja
Tuan Si Raja Hita
Guru Patimpus
Datuk Hafiz Muda
Datuk Muhammad Syah Darat
Datuk Mahmud
Datuk Ali
Banu Hasyim
Sultan Sri Ahmad gelar Datuk Setia Raja
Datuk Adil
Datuk Gombak
Datuk
Hafiz Haberham
Datuk Syariful Azas Haberham
Datuk Adil Freddy Haberham
Sampai
saat ini Sepuluh Dua Kuta masih eksis dan dijabat oleh Datuk Adil Freddy
Haberham, meski kekuasaannya hanya dalam lingkup adat resam melayu saja yang
bersama tiga datuk lainnya berhak mengangkat Sultan Deli. Sementara sebelas
kuta yang lain tidak dapat kita ketahui perkembangannya kecuali sedikit. Bagi
yang berminat silakan menelusuri kuta-kuta peninggalan Patimpus di bawah ini :
Benara
Kuluhu
Batu
Salahan
Paropa
Liang Tanah
Tongging
Aji Jahe (Kaban Jahe)
Batu Karang
Perbaji
Durian Kerajaan
(Hamnas/Red).
Post a Comment