Ketua Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Hussanna Babussalam, Masroini Tampu Bolon SPd,MM melakukan pembangunan Masjid Ponpes Hussanna Babussalam.
Peletakan batu pertama pembangunan Masjid tersebut dilakukan langsung oleh Kepala Kementrian Agama (Kemenag) Rokan Hilir, H. Khairul SAg, Jumat (4/9/2026) pagi sekitar pukul 10.00 WIB
Pembangunan Masjid ini merupakan Amanah almarhum suaminya, H.Saifudin Harahap yang merupakan pendiri Yayasan Pondok Pesantren Hussanna Babussalam.
Masjid ini di bangun di atas lahan kawasan lingkungan Ponpes Hussanna Babussalam dengan berukuran 15 x 15 meter di Jalan Lintas PU, Kepenghuluan Teluk Piyai, Kecamatan Kubu, Kabupaten Rokan Hilir.
Turut hadir dalam peletakan batu pertama, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Rokan Hilir H. Khairul, S.Ag., Camat Kubu DR. H. Syafrizal, S.Ag., M.IS, Ketua Yayasan Ponpes Hussanna Babussalam Masroini Tampubolon, S.Pd, Lurah Teluk Merbau, Lailatul Mardiah SPd, MM. Kabid Madrasah, KUA Kubu, tokoh agama, tokoh masyarakat, Kapolsek Kubu diwakili langsung oleh Bhabinkamtibmas Teluk Piyai, Aipda Safrianto dan tamu undangan lainnya.
Kepala Kemenag Rohil, H.Khoirul SAg mengatakan, Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Pondok Pesantren Hussanna Babussalam tidak sekadar dimaknai sebagai dimulainya pembangunan fisik.
"Kementerian Agama (Kemenag) Rokan Hilir mendorong masjid ini kelak menjadi pusat ibadah, pendidikan, kegiatan sosial, sekaligus perekat persatuan masyarakat," ujarnya.
Pembangunan masjid merupakan bagian dari cita-cita mulia keluarga besar Pondok Pesantren Hussanna Babussalam untuk meninggalkan warisan yang dapat dimanfaatkan generasi mendatang.
“Peletakan batu pertama hari ini bukan batu terakhir. Artinya, pembangunan ini harus berkelanjutan sampai masjid selesai dan benar-benar dapat dimanfaatkan untuk beribadah,” ujarnya.
Lanjut Kemenag Rohil, pembangunan fisik masjid pada dasarnya bukan persoalan paling sulit. Tantangan yang lebih besar justru memastikan masjid yang telah dibangun mampu dimakmurkan oleh masyarakat.
"Kemegahan bangunan Masjid tidak akan memiliki arti maksimal apabila fungsi masjid sebagai pusat kehidupan umat tidak berjalan," ujarnya.
Kemenag Rohil menyebut, sedikitnya terdapat empat fungsi utama masjid yang harus diwujudkan.
Pertama, masjid harus menjadi pusat ibadah. Selain pelaksanaan salat berjamaah, masjid diharapkan menjadi tempat belajar membaca Al-Quran, berdzikir, serta melaksanakan berbagai kegiatan keagamaan.
Kedua, masjid harus berfungsi sebagai pusat pendidikan. Posisi Masjid Hussanna Babussalam yang berada di lingkungan pendidikan, mulai dari madrasah ibtidaiyah hingga jenjang pendidikan lanjutan, dinilai sangat strategis untuk menjadikan masjid sebagai bagian dari pusat pembinaan generasi muda.
“Masjid ini berada di tengah lingkungan pendidikan. Karena itu, mari kita fungsikan masjid sebagai pusat pendidikan,” katanya.
Ketiga, lanjut Khairul, masjid harus memiliki fungsi sosial. Masjid tidak boleh hanya menjadi tempat berkumpul ketika waktu salat tiba, tetapi juga menjadi pusat kepedulian terhadap masyarakat.
"Seperti kegiatan sosial membantu warga yang mengalami musibah, santunan bagi masyarakat kurang mampu, pengelolaan zakat, wakaf dan infak dapat dikembangkan melalui masjid," ujarnya.
Fungsi keempat tambahnya, menjadi Masjid lambang persatuan dan kesatuan umat perbedaan yang ada di tengah masyarakat tidak menjadi sumber perpecahan. Masjid, kata dia, seharusnya menjadi ruang yang mempertemukan seluruh lapisan masyarakat khususnya ummat muslim.
“Perbedaan pendapat adalah hal biasa. Bagaimana masjid bisa menjadikan persatuan bagi umat yang ada di sekitar, bagi jamaah dan masyarakat,” katanya.
Sementara itu Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hussanna Babussalam mengungkapkan, pembangunan masjid tersebut bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi juga bagian dari upaya menunaikan amanah almarhum Haji Saifudin Harahap, pendiri pondok pesantren yang merupakan suaminya.
Ia menyebutkan, sebelum meninggal dunia, almarhum telah menyampaikan secara langsung mengenai keinginannya agar pembangunan masjid di lingkungan pesantren dapat segera direalisasikan.
“Beliau berpesan bahwa masjid ini harus didirikan. Bahkan sebelum beliau meninggal, sudah disiapkan beberapa material untuk pembangunan, termasuk pasir, kerikil dan sekitar 11 ribu batu bata,” ujarnya.
Amanah tersebut, kata Masroini, menjadi tanggung jawab moral yang terus diingat setelah almarhum wafat. Bahkan, pesan tersebut disampaikan almarhum ketika menjalani perawatan di Rumah Sakit Prima, beberapa hari sebelum mengembuskan napas terakhir.
“Ini amanah secara lisan maupun tertulis. Hari demi hari saya lalui terasa seperti hutang yang belum terbayar. Karena itu, saya berusaha menyisihkan rezeki dengan ikhlas karena Allah SWT untuk melanjutkan cita-cita beliau,” ujarnya.
Diuraikan Masroini Tampubolon, pembangunan Masjid ini nantinya di jadwalkan selama satu tahun kedepan.
"Pokok kita targetkan delam satu tahun pembangunan bisa selesai, masjid ini juga terbuka untuk umum,"akunya.
Di sisi lain, Ketua Yayasan menjelaskan perjalanan Pondok Pesantren Hussanna Babussalam terus berkembang sejak awal berdiri pada 2011, sementara izin pendiriannya telah diperoleh pada 2010.
"Pendidikan tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) kemudian berjalan dan hingga kini telah menjalani akreditasi sebanyak tiga kali dengan hasil akreditasi B plus," ujarnya.
Atas dorongan masyarakat dan kebutuhan pendidikan di wilayah tersebut, yayasan kemudian membuka pendidikan Madrasah Diniyah (MD) pada 2018. Lembaga pendidikan tersebut juga telah mendapatkan pengakuan dan akreditasi dengan hasil B Plus.
Perkembangan kembali berlanjut dengan dibukanya tingkat Madrasah Aliyah (MA) pada 2020. Hingga kini, tingkat Aliyah telah menjalani proses akreditasi dan memperoleh hasil B Plus.
“Semua ini tidak terlepas dari dukungan masyarakat. Kami melihat pendidikan memang sangat dibutuhkan di daerah ini,” pungkasnya. (Zul).
