Puluhan hektare tanaman padi milik petani di Desa Sungai Sentang, Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), Sumatera Utara, terendam banjir akibat tingginya curah hujan dalam sepekan terakhir.
Banjir mengancam keberlangsungan tanaman padi yang baru berusia sekitar 10 hari setelah ditanam. Tanaman yang terendam dikhawatirkan membusuk dan mati jika genangan air tidak segera surut. Kondisi ini berpotensi menimbulkan kerugian bagi petani.
Mengantisipasi luapan air yang semakin tinggi, pemerintah desa bersama masyarakat melakukan normalisasi parit pembuangan air sepanjang satu kilometer menggunakan dana swadaya masyarakat.
Kepala Desa Sungai Sentang, Waluyo, kepada Metro Sumut, Selasa (20/10/2026), mengatakan normalisasi dilakukan karena saluran pembuangan air mengalami pendangkalan dan dipenuhi eceng gondok sehingga aliran air tidak berjalan lancar.
"Parit pembuangan air sudah mulai dangkal dan dipenuhi eceng gondok. Akibatnya, air tidak mengalir dengan lancar. Karena itu, kita terpaksa melakukan normalisasi parit Dusun Sungai Sentang sepanjang satu kilometer," ujar Waluyo.
Ia menjelaskan, pengerjaan normalisasi dimulai dari Simpang Dusun Sungai Sentang menuju Bendungan Dusun Putat Pasar Nol. Langkah tersebut diharapkan dapat memperlancar aliran air dari areal persawahan sehingga genangan yang merendam tanaman padi segera berkurang.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat melalui swadaya menjadi langkah yang ditempuh pemerintah desa untuk mengatasi persoalan drainase yang berdampak langsung terhadap lahan pertanian warga.
"Kita berharap melalui normalisasi ini, ketinggian air di sawah petani bisa menyusut dan tanaman padi yang baru ditanam dapat diselamatkan," pungkasnya. (Rusman).
